Jumat, 02 Maret 2012

A Beautiful Day

Diposkan oleh Nirmala di 00.18

Author            : Nirmala Atma Adiningsih
Ratting           : PG
Genre              : Family and Romance
Main Cast       : Keito Okamoto (HSJ) and Nakashima Miyako
Disclaimer      : Keito adalah milik dirinya sendiri, Tuhan dan orang tuanya..

Prannnngggg…..
Suara itu lagi. Jika demikian maka tak lama lagi akan menyusul suara lain. 3…2…1….
“Hiks… hiks… Aku ingin bercerai denganmu…” Gubrak
Oh Tuhan, aku memejamkan kedua mataku, mencoba memaksa diriku untuk bertahan dengan keadaan ini. Keadaan yang sebenarnya sudah aku lalui hampir 3 tahun. Tapi ketahuilah 3 tahun adalah masa puncak dari semua ini. Aku hidup dalam keluarga, keluarga? Tidak, masih dapatkah disebut sebagai sebuah keluarga jika kedamaian dan kebahagiaan tidak pernah ada dalamnya? Pernikahan mereka adalah pernikahan tidak sempurna. Mengapa mereka menikah, dan melahirkan aku kedunia ini jika mereka tidak dapat menunjukkan keindahan dunia ini? selama hampir 17 tahun aku hidup hanya tangisan, kekerasan dan teriakan kata-kata kasar yang aku dengar. Aku ingin membuktikan kata-kata teman-temanku bahwa berlibur bersama keluarga di pantai, taman, dan tempat lainnya itu menyenangkan, tapi apa? Jangankan berlibur, berkumpul bersama untuk makan malam saja hanya saat ada kerabat yang datang, selebihnya…
Aku tidak sanggup lagi bertahan, aku tidak dapat hidup seperti ini, orang yang seharusnya paling dekat denganku, malah serasa tidak ada dalam kehidupanku… aku tersungkur di lantai kamarku, aku tidak mampu lagi menahan ini semua, tapi aku juga tidak memiliki kemampuan untuk mengubah atau mengakhiri ini semua. Aku masih mendengar teriakan mereka, kututup kedua telingaku dengan telapak tangan. Tidakkah mereka peduli padaku? Apakah mereka tidak memikirkan perasaanku? Setiap kali pulang dan bertemu satu sama lain, hanya pertengkaran yang mereka lakukan. Aku juga ingin mereka memperhatikanku, mengajakku bercanda, atau sekedar menyapaku saat mereka pulang bekerja malam hari, tidakkah mereka tahu, aku selalu menunggu setiap malam di ruang tengah, menunggu mereka datang hingga aku tertidur di sofa dan ujung-ujungnya bukan mereka yang membangunkanku tetapi, pembantu yang telah berada di rumah ini sejak aku lahir.
aku butuh orang lain, aku butuh seseorang yang dapat membantuku keluar dari masalah ini atau sekedar menghiburku. Aku mengambil ponsel yang tergeletak di sampingku, aku mencari kontak di ponsel, mencari kemungkinan orang yang bisa aku ajak mengobrol. Aku berhenti di sebuah nama ‘KEITO’ mungkinkah? Seseungguhnya ia adalah pacarku, ahhh tapi kurasa itu dulu, sebab sudah 3 bulan kami tidak ada komunikasi, masih bisakah itu disebut pacar? Entah apa alasannya ia tidak menghubungiku lagi, e-mailku, pesan singkatku, bahkan teleponku tak pernah dijawabnya. Aku tutup kembali flep ponselku. Ia tidak mungkin menjawab panggilanku, aku bahkan ragu ia masih memakai no itu atau telah mengganti no ponselnya tanpa memberitahuku. Sekarang lengkap sudah rasa sakit yang kurasakan, ditinggalkan oleh orang-orang yang kusayangi. Kurebahkan tubuhku di lantai, aku menangis. Dalam keadaan seperti ini, hanya ada 1 hal yang ada dalam pikiranku, ‘mengakhiri hidup’ dengan begini aku tidak akan merasa sakit lagi, namun jujur aku takut mati, aku takut jika ternyata mati itu sakit. Sudah terlalu banyak rasa sakit yang kurasakan, aku tidak ingin dalam masa akhir hidupku pun aku harus merasa sakit.
Aku harus kuat, aku harus mampu bertahan. Tapi sampai kapan? Aku juga memiliki hak untuk menerima kehidupan yang layak, ok secara lahir aku memang hidup layak, tapi secara batin? Aku mungkin tidak bisa disebut sebagai seorang anak, anak pasti memiliki orang tua yang menyanyanginya sepenuh hati, yang rela mengorbankan apa saja demi anaknya, tapi aku? aku juga ingin merayakan ulang tahunku bersama orang tuaku, tetapi mereka seakan tidak punya waktu dengan itu, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing dan mengabaikan aku yang jelas-jelas ada dalam kehidupan mereka.
Samar aku masih mendengar teriakan mereka namun lambat laun suara itu meredup. Entah apa yang terjadi denganku, mungkin saja malaikat Tuhan telah mengambil nyawaku tapi, jika ini mati aku ingin mendapatkannya sebab tak ada rasa sakit yang kurasakan. 
************************
Aku tersadar, sekelilingku gelap. Aku bangun dan mencari letak sakelar lampu berada. Ketika kunyalakan, tempat itu terang. Aku berada di ruangan. Ini kamarku, jadi aku belum mati. Sayang sekali. Padahal, aku benar-benar ingin bahwa tadi itu adalah kematianku.
Aku melihat arlojiku, 09.10. ternyata aku telah tertidur cukup lama. Aku teringat akan pertengkaran papa dan mama tadi sore. Rumah ini begitu sunyi, aku berjalan menuruni tangga. Tidak ada tanda-tanda orang yang belum tidur di rumah ini. mungkin bibi sudah tidur. Aku menuju ke kamar papa dan mama. Kosong. ‘mereka pasti pergi lagi’. Itulah, jika mereka bertengkar maka pasti tidak ada yang tidur di rumah.
Aku mencari nama papa di kontak ponselku. Arghh tidak aktif. Begitu pun dengan mama. Aku benci mereka. Aku memang bukan anak kecil yang harus dijaga sepanjang waktu, tapi aku juga tidak bisa ditinggal terus seperti ini. aku menangis, menahan sakit semua ini. Bahkan, disaat seperti ini tidak ada yang datang menghiburku dan memberi perhatian. Kerabat? Tidak ada yang tinggal di kota Tokyo. Teman? Jujur saja aku tidak memiliki teman-teman yang begitu dekat denganku. Pacar? Ini dia kata yang selalu aku hindari. Keito. Nama itu yang selalu muncul di benakku tiap mendengar kata pacar. Lelaki kurang ajar. Jika ia memang sudah tidak menyayangiku, lebih baik putuskan hubungan ini baik-baik. Tapi dia? Jangankan memutuskan hubungan ini, menghubungiku saja tidak pernah ia lakukan. Hasilnya, aku tetap sendiri, entah sampai kapan. Mungkin sampai dewa kematian menjemputku.
Aku tertidur di kamar papa dan mama. Aku sudah selesai ujian akhir, jadi aku merasa tidak perlu untuk ke sekolah. Oleh karenanya bangun siang bukanlah masalah. Aku keluar dari kamar papa dan mama. Aku melihat seorang wanita duduk menonton tv. ‘Mama’. Aku berjalan mendekat, wanita itu berbalik.
“Pagi, Ako sayang”
“Tante” ternyata ia tante Yuki, adik bungsu Papa.
“Apa yang Tante lakukan di Tokyo? Sehingga pagi ini sudah disini?” tanyaku itu dikarenakan rumah tante Yuki di Kanagawa.
“Kebetulan ada teman tante menikah di Tokyo, jadi sekalian saja Tante mampir. Lumayan kan? Daripada nginap di hotel. Hahaha” tante Yuki tertawa dan kupaksakan seulas senyum di bibirku.
“Ada apa Ako?” tiba-tiba tante Yuki bertanya demikian. Mungkin ia menyadari ekspresiku yang tidak seperti biasanya.
“Heh? Tidak. Aku tidak apa-apa.” Lagi-lagi kupaksa tersenyum sewajar mungkin.
“Sudahlah, Tante tahu semuanya. Sekarang mandilah agar kau segar. Kemudian kita sarapan bersama.”
“He-em” aku berjalan menuju kamarku.
************************
Kami sarapan bersama. Begitu kami menyelesaikan sarapan kami, tante Yuki terus menatapku.
“Ako, jangan kau tahan, keluarkan semua yang kau rasakan.” Aku mengerti apa yang Tante Yuki maksud, ia tidak tega melihatku berusaha untuk terlihat bahagia padahal, sedikit pun tidak ada kebahagiaan yang kurasakan.
“Menangislah! Jika itu bisa membuatmu sedikit lega. Kau tidak pantas menerima ini semua Ako,”
Lama-lama aku tidak dapat menahan semua ini. air mataku menetes, aku menangis, mengeluarkan semua yang kurasakan. Kebencianku pada papa dan mama, Keito dan semuanya. Tante Yuki membiarkanku menangis, ia hanya menatapku pilu. Kemudian ia memelukku.
“Aku ingin memiliki keluarga yang normal Tante, aku tidak ingin hidup seperti ini.”
“Aku tahu. Aku tahu Ako. Sekarang kau hanya perlu bersabar. Tante yakin ini akan berakhir.”
“tapi sampai kapan, bertahun-tahun mereka seperti ini.” air mataku kembali meruak. Tante Yuki hanya terdiam. Kurasa ia tidak memiliki kata-kata untuk menghiburku. Karena dilihat dari sudut manapun, posisiku sangat sulit.
************************
Malam ini Tante Yuki menghadiri acara pernikahan temannya itu, ia mengajakku, hanya saja aku menolaknya dengan alasan aku malas keluar. Sejujurnya bukan itu alasan yang benar, aku ingin bahkan sangat ingin keluar, menghirup udara, mengunjungi tempat-tempat yang menarik. Hanya saja, jika nanti aku pergi aku tidak akan bertemu papa atau mama jika salah seorang dari mereka pulang. Jadi kuputuskan menunggu.
Keputusanku tidak sia-sia. Mama pulang malam ini.
“Mama, akhirnya mama pulang. Ako benar-benar rindu pada mama.” Aku menghamburkan pelukanku pada Mama begitu mama berada di ruang tengah.
“Maaf Ako.” Mama melepas pelukanku, tanpa balas memelukku sebelumnya.
“Mama sangat lelah, mama ingin istirahat” mama meninggalkanku di ruang tengah. Aku hanya terdiam melihat mama pergi menuju kamarnya tanpa mengucapkan apa-apa sebagai tanda bahwa ia juga merindukanku. Air mataku lagi-lagi menetes, aku menunggu. Menunggu mama pulang. Tapi,,, jangankan satu kecupan manis di wajahku, kata sayang pun tidak aku dengar keluar dari mulutnya. Apakah ia lupa, bahwa aku keluar dari rahimnya?
‘Aku kangen mama yang dulu, mama saat aku masih kecil, yang selalu membawa kemana pun ia pergi.’ Aku berbisik dalam hati, berharap Tuhan tidak tidur dan mendengar kalimat ini, sehingga Tuhan dapat mengembalikan mama yang penuh sayang padaku. Aku tersadar begitu mendengar suara mobil di halaman depan, itu pasti Papa. Aku berlari menuju kedepan. Tebakanku benar. Aku menyambut papa di teras.
“Papa,,” aku memeluknya sama seperti yang aku lakukan pada mama tadi.
“Aku kangen sama Papa” aku tersenyum. Karena papa membalas pelukanku.
“Maafkan papa yang sering meninggalkanmu Ako,,” aku melepas pelukanku.
“Papa sudah makan malam? Mau kubuatkan sesuatu?” tawarku
“Tidak. Papa tidak lapar. Papa hanya ingin beristirahat. Selamat malam sayang.” Papa meninggalkanku di teras. Tapi setidaknya papa memanggilku sayang.
Aku masuk kedalam rumah dan menuju kamarku, ‘paling tidak mereka di rumah sekarang’. Bisikku dalam hati. Aku berusaha menenangkan pikiranku di kamar, mengintimidasi pikiranku agar tenang dan segera tidur. Tetapi, baru saja aku akan terlelap, suara pecahan kaca terdengar dari lantai bawah. Mungkinkah? Aku segera berlari keluar kamar. Aku menuju ke kamar papa dan mama. Sunyi. Tidak terdengar teriakan atau suara tangisan. Aku membuka pintunya. Terkunci. Apa yang terjadi? Aku mengetuk pintu itu.
“Papa, mama apa yang terjadi? Ada apa dengan kalian? Papa mama buka pintunya.” Aku mencari kunci cadangan di laci di dekatku. Aku menemukannya. Aku berusaha membuka pintu itu dan begitu aku membukanya, pemandangan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
“TIIIIIDAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKK”
“PAPA…… MAMA….” Mereka dibalut cairan kemerahan. Aku tidak mampu mengartikan ini semua, kakiku tidak mampu menahan tubuhku. Aku tumbang. Seketika juga semuanya gelap, tanpa warna. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
*******************************
Aku tersadar. Kini hanya warna putih yang ada dalam pandanganku. Mungkinkah ini surga? Tapi bau ini. ini bau yang kukenal. Obat bius, darah dan lainnya. Rumah sakit. Ternyata aku belum mati.
“Ako, kau sudah sadar sayang?” Tante Yuki berdiri disamping kananku. Aku berusaha mengingat kejadian sebelum aku terbaring disini. Aku dirumah, lalu… Tidak mungkin.
“Papa, mama. Mana mereka? Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka baik-baiki saja? Bawa aku pada mereka Tante!” aku berusaha bangun
“Tenanglah Ako. Kumohon tenanglah.”
“Tidak. Aku harus bertemu mereka. Bawa aku bertemu mereka”
“Ok. Ok. Tapi kumohon tenang.” Tante Yuki membantuku berdiri. Ia mengantarku untuk menemui papa dan mama. Kami berdiri di depan sebuah pintu. Tante Yuki membukakannya untuk kami. Kutatap Tante Yuki dengan tatapan pilu, ia juga terlihat sangat sedih. Apakah sesuatu yang buruk terjadi? Tidak. Kumohon jangan. Kami masuk ke ruangan itu. Kami menuju ketempat dimana papa dan mama dibaringkan. Kini, dihadapanku ada 2 tubuh yang tertutup kain putih. Aku berusaha menguatkan hatiku, kubuka kedua kain putih itu dan dibaliknya terbujur kaku kedua wajah yang selalu aku rindukan.
“TIDAK. INI TIDAK MUNGKIN.” Aku menangis, ini semua tidak dapat kupercaya. Bukan ini yang kuinginkan. Bukan ini.
“Papa….. Mama…” aku tidak melanjutkan kata-kataku, beban dan rasa sakit ini melumpuhkan saraf-sarafku. Aku pingsan.
*******************************

Keito POV
Saat ini aku berdiri di samping seseorang. Gadis yang sudah aku cintai selama 2,5 tahun. Yang resmi menjadi kekasihku 2 tahun lalu. Tapi kini wajah yang dulu selalu tersenyum di depanku, terlihat kurus dan sedih. Ia pasti sengsara. Menjalani ini semua selama bertahun-tahun lamanya sendiri, tanpa orang lain, juga tanpa aku beberapa bulan terakhir ini, padahal aku pacarnya. Aku benar-benar tidak berguna. Saat orang yang kucintai benar-benar membutuhkanku, aku tidak dapat menolongnya sama sekali. Aku benar-benar bodoh, sempat meninggalkan dia hanya untuk keinginan untuk bersama dengan gadis lain, yang kusuka sejak kecil. Sekarang aku menyesal. Aku bahkan ragu ia masih mau menerimaku atau berbicara padaku. Aku memang pantas mendapat ini semua, karena aku telah menyakiti hatinya. Tapi aku masih menyanyanginya, sangat menyanyanginya. Meskipun sempat ada keraguan beberapa bulan yang lalu. Kumohon Ako, kembalilah menjadi gadis seperti pertama aku mengenalmu. Kau tidak pantas menerima ini semua. Berhari-hari terkurung di rumah sakit. Ako mengalami sedikit gangguan psikologi, emosinya tidak terkontrol. Sehingga ia sering diberi obat penenang. Mungkin ini akibat kejadian yang ia alami dalam keluarganya, melihat kedua orang tuanya saling melukai hingga akhirnya tewas bersama. Ia sangat merindukan keluarga yang normal, tapi malah kesendirian yang ia peroleh.
“Maafkan aku, Ako. Bangunlah dan jadilah Ako yang dulu, aku rindu senyummu.” Kugenggam erat tangannya. Berharap ia bangun dan memaafkan semua kesalahanku. Memaafkan aku yang tidak pernah menghubunginya lagi dan kini datang kembali padanya saat ia terpuruk. Tiba-tiba jari-jari yang kugenggam bergerak. Ako sadar. Ia mungkin mendengar suaraku.
“Ako, kau sadar sayang” aku menatapnya. Ia membuka kedua kelopak matanya dan ia menatap kearahku.
“Syukurlah kau sudah sadar, ini aku Keito. Maafkan aku.Maaf.” kugenggam lebih erat tangannya. Ia tampak diam, mungkin ia berusaha mengingat diriku. Gangguan akan emosinya tentu mempengaruhi  daya ingatnya karena ingatannya pasti dipenuhi kejadian saat Papa dan mamanya terbunuh. Namun, ia menarik tangannya dari genggamanku.
“Untuk apa kau kemari? Hah? Apa kau ingin melihat keadaanku yang menyedihkan seperti ini. apa kau puas karena ulahmu aku jadi seperti ini? Ketahuilah, aku seperti ini bukan karena kau. Sekarang pergi. Aku tidak ingin melihatmu lagi.” Ia membuang wajahnya kearah lain.
“Ako, aku tahu. Aku salah. Maaf, karena selama ini aku membiarkanmu menghadapi ini sendiri. Aku tidak berada di sampingmu saat kau membutuhkanku.”
“Aku tidak pernah butuh kau, Keito. Sekarang pergi. PERGI” ia berteriak. Tidak. Aku tidak ingin pergi. Tapi, emosinya tidak stabil saat ini, jika aku memaksa berada disini, maka ia bisa mengamuk lagi.
“PERGI….PERGI…”
“Keito, sebaiknya kau keluar dulu.” Tiba-tiba saja Tante Yuki telah berada di ruangan ini. aku kalah. Aku harus keluar. Demi Ako.
“Tenang sayang. Ako tenanglah.” Tante Yuki berusaha menenangkan Ako, tapi ia masih saja berteriak dan menangis. Samar-samar kudengar ia berkata bahwa ia tidak ingin melihatku lagi. Hatiku sakit mendengar itu.
*************************
Dokter dan juga tante Yuki melarangku sementara waktu untuk menemui Ako karena dikhawatirkan dengan kedatanganku secara tiba-tiba membuat emosionalnya terganggu. Karena jika sesuatu yang dulunya menjadi penyebab emosinya tidak terkontrol tiba-tiba terulang lagi atau bertolak belakang dengan sebelumnya maka akan menyebabkan ia semakin tertekan. Jadi, kuputuskan untuk melihatnya dari luar. Aku ingin berada disampingnya dan melakukan apapun agar ia bahagia, tapi jika ini memang membuatnya cepat pulih aku juga akan melakukannya.
Hari ini aku berniat datang untuk membawakannya bunga dan juga beberapa buah, tapi aku tidak akan menyerahkannya secara langsung. Ketika aku tiba di depan kamarnya, aku melihat-lihat jika ada suster yang lewat agar aku bisa menitipkannya padanya. Tapi, tidak satupun dari mereka yang lewat. Aku mengintip lewat kaca yang berada di pintu. Tapi aku tidak melihat Ako.
“Kemana Ako?” aku berbicara pada diriku sendiri. Biasanya ia selalu duduk atau tidur di atas tempat tidurnya atau berdiri di dekat jendela. Tapi, sekarang. Aku membuka pintunya dan masuk ke dalam. Aku berjalan perlahan dan aku menemukan Ako duduk di lantai dengan sebuah benda di tangan kanannya. Tidak. Ia tidak boleh melakukannya. Sebuah pisau kecil. Aku yakin ia akan melakukan sesuatu yang salah.
“Jangan. Kau tidak boleh melakukannya.” Aku berusaha mengambil pisau dari tangannya.
“Lepas. Biarkan aku melakukannya. Apa pedulimu? Hah?” ia tetap mempertahankan pisau itu.
“Kumohon Ako. Aku menyayangimu, aku tidak ingin kehilangan dirimu.”
“Tidak. Lepas keito!” kami terlibat saling tarik pisau hingga berhenti saat pisau itu tertancap empuk di daging. Aku melepas pisau itu dan memegang perut kananku, darah kental mengalir deras dari perutku.
“Keito. Tidak. Apa yang aku lakukan.” Ako melepas pisau itu. Aku terjatuh ke lantai.
“Keito, bangun. Aku tidak sengaja. Bangunlah.” Aku mendengar suara Ako, tapi tidak begitu jelas. Kepalaku pening. Selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi.
***********************************
Ako POV
Aku takut. Aku takut. Aku membencinya tapi aku tidak ingin ia mati. Bagaimanapun aku masih mencintainya. Aku masih mencintai laki-laki itu. Sangat. Tapi, sekarang?  Jika ada sesuatu yang buruk terjadi padanya aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Cukup mama dan papa yang meninggal. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang aku sayangi lagi.
“Tante, bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?” aku menundukkan wajahku.
“Tenanglah sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah.” Aku berusaha tenang dan menunggu dokter yang menangani Keito keluar.
“Bagaimana keadaannya Dok?” Tante Yuki berdiri begitu melihat dokter keluar dan menuju kearah kami.
“Tidak perlu khawatir, ia tidak kehilangan banyak darah. Tidak lama lagi ia akan sadar, setelah efek obat biusnya hilang.” Dokter itu menjelaskan pada kami.
“Apa boleh saya melihatnya Dok?” aku bertanya pada Dokter itu.
“tentu saja. Silahkan” tanpa pikir panjang lagi aku masuk ke ruangan dimana Keito berada. Aku melihatnya terbaring dengan selang infus di tangannya. Aku mendekat. Wajah ini, ini juga wajah yang kurindukan, wajah yang ingin kulihat selama beberapa bulan terakhir ini. wajah yang kucintai, sekarang terbaring karena ulahku. Aku menundukkan wajahku dan menangis. Harusnya aku menuruti kata-katanya untuk melepas pisau tadi agar ia tidak terluka seperti ini.
“Ini salahku. Maaf.”
“Ini bukan salahmu, Ako.” Sebuah suara membalas perkataanku tadi.
“Keito, kau tidak apa-apa? Maaf. Aku tidak sengaja melakukannya.” Air mataku kembali jatuh.
“Kau tidak salah apa-apa. Aku yang salah. Jika aku tidak meninggalkanmu, ini tidak akan terjadi. Maaf. Lagipula aku bersyukur dengan kejadian ini, karena dengan begini kau mau bertemu denganku.” Aku menatapnya. Ia juga menatapku sambil tersenyum. Aku rindu tatapan mata itu. Aku juga rindu senyum itu. Aku rindu semua yang ada padanya. Keito bangun.
“Hei, jangan bergerak dulu.” Tapi aku terlambat mengingatkannya, karena ia telah duduk sekarang.
“Tidak apa-apa. Aku sangat senang karena kau masih perhatian padaku, Ako.” Aku menundukkan wajahku, wajahku panas.
“Aku menyayangimu. Sangat. Aku mencintaimu, Ako. Kumohon, kita mulai dari awal lagi.” Aku terkejut mendengar ia berkata demikian. Aku bingung. Apa yang harus kulakukan?
“Maaf. Aku harus pergi.” Aku berbalik hendak pergi, namun sebuah tangan menarik bahuku dan mendekapku dengan kedua tangannya.
“Aku tidak ingin kehilangan dirimu Ako. Aku telah membuat kesalahan besar dengan meninggalkanmu, aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.” Ia mendekapku sangat erat. Jujur, aku rindu tangan ini. tangan yang dulu selalu menggandeng tanganku, tangan yang selalu memelukku jika aku sedih.
“Aku sangat mencintaimu.” Ia memutar tubuhku sehingga kini aku menghadap ke wajahnya.
“Ako, jawablah.” Ia terus menatapku. Bagaimana ini? sebenarnya aku ingin hubungan ini berlanjut karena aku masih menyayanginya. Tapi, seriuskah ia? Apakah dia tidak akan meninggalkanku lagi?
“Apa kau berjanji tidak akan meninggalkanku lagi?” tanyaku.
“Aku janji. Aku akan selalu berada di sampingmu.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Aku memeluknya. Ia juga memelukku.
“Aku menyayangimu Keito. Sengat menyangimu.”
“Aku tahu. Maaf. Karena pernah mengecewakanmu.”
“Itu tidak masalah. Aku senang kau kembali.”
Kami masih berpelukan tanpa menyadari ada beberapa pasang mata yang melihat kearah kami. Hari yang indah. Saat dimana aku mendapat sedikit kebahagiaan dalam hidupku. Tidak. Banyak kebahagiaan. Karena, hidup inilah yang akan aku jalani nantinya bersama orang yang aku cintai. Selamanya.  

The END
Tambah geje ini fanficku…. hhhh 
i need ur comments. please...

0 komentar:

 

Cuap-Cuap Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea