Jumat, 02 Maret 2012

Ugly Girl Love Story

Diposkan oleh Nirmala di 06.36
            Author             : Nirmala Atma Adiningsih
Ratting            : PG
Genre              : Romance
Main Cast       : Yamada Ryosuke (HSJ) and Nakashima Miyako
Disclaimer      : Cerita geje ini aku buat untuk Ryosuke-kun.. berharap suatu saat nanti.. suatu saat nanti.. bertemu dengan Ryosuke-kun..
Hari ini, tepat seminggu keberadaanku di Tokyo. Setelah 3 tahun lamanya aku pergi, tidak banyak yang berubah. Lingkungan rumahku pun tidak banyak berubah, hanya saja taman kecil di tengah kompleks terlihat lebih indah, mungkin karena lebih banyak bunga dan berwarna-warni.
Pagi ini aku lari pagi berkeliling kompleks. Belum banyak aktivitas yang kulakukan selama di Tokyo. Oleh karena kedatanganku saat ini hanya 2 bulan saja, maka aku gunakan itu sebaik-baiknya. Aku belum menyelesaikan kuliahku di LA. Jika Ibuku tidak ngotot menyuruhku pulang, mungkin saat ini aku masih berolahraga bersama teman-teman seapartemenku. Nampaknya aku telah berlari cukup jauh dan keluar dari kompleks. Aku menghentikan lariku melihat billboard besar tidak jauh dari tempatku berdiri. Sebuah poster besar menampilkan 10 wajah lelaki tampan yang terkesan cantik. Mataku terpaku pada wajah salah deorang dari mereka yang berada di tengah. Itulah wajah yang membuat aku meninggalkan Tokyo, wajah  yang membuat aku harus ke LA dan beradaptasi disana, wajah yang ingin sekali kubenci namun selalu gagal. Tapi, karena wajah itulah aku dapat seperti ini.
Suara dering ponselku, membuat aku mengalihkan perhatianku dari billboard itu.
“Moshi-moshi, Okaasan” …. “Iya, aku segera pulang”. Aku menutup flap ponselku.
Aku berlari kearah dimana tadi aku datang. ‘Suatu saat aku pasti bertemu dengannya’
***
            Flash Back
            Aku masuk ke SMA yang mayoritas mereka yang sebagai Artis atau Penyanyi, itu membuatku minder. Bagaimana tiddak? Mana mungkin gadis 85 kg dapat bergaul dengan mereka dengan bakat dan penampilan yang mendukung? Bahkan, jika kemungkinan itu datang dariku, belum tentu mereka menerimanya. Itu kurasakan sejak aku masuk ke sekolah itu, aku telah memohon-mohon pada kedua orang tuaku untuk memindahkan aku sekolah dengan alasan aku tidak dapat bergaul dengan mereka. Namun, dari alasan yang sama mereka mengatakan bahwa jika nanti tiba saatnya aku akan mendapat teman yang manu menerimaku. Karena jika saat itu belum tiba, dimanapun aku berada hal itu tidak akan berubah. Tetapi dorongan untuk tetap berada di sekolah itu bukan datang dari orang tuaku, itu karena sosok Iblis kecil yang membuat siapa saja akan terus memperhatikannya, tanpa terkecuali aku, yang mungkin tidak akan pernah mendapat perhatiannya. Ia adalah 1 dari 10 remaja yang tergabung dalam Boyband Hey!Say!Jump! salah satu grup yang bekerja di tarik suara sekligus dance. Tetapi, hanya 5 orang yang berada di sekolah ini. Namanya Yamada Ryosuke. Aku hanya berani menatapnya dari jauh, aku tidak memiliki keberanian menunjukkan perhatian padanya secara langsung. Tentu saja aku akan menjadi bahan tertawaan mereka. Gadis gendut dan jelek berani mendekati seorang pangeran sekolah. Itu pasti sangat lucu.
            Suatu saat ketika waktu istirahat, aku berjalan menuju atap sekolah. Aku malas duduk makan bersama mereka di cafetaria sekolah. Sehingga aku membawa sebungkus roti. Setibanya aku disana seseorang sedang tidur di bangku panjang yang memang tersedia di tempat itu. Aku berjalan perlahan dan mendekat. Aku sangat terkejut melihatnya, ia adalah Yamada Ryosuke. Aku berlari bersembunyi di balik tembok. Ini pertama kalinya aku melihatnya begitu dekat sejak 2 tahun aku mulai melihatnya. Haruskah aku bersyukur? Tapi aku sangat malu, aku harus pergi sebelum ia terbangun.
            “Sampai kapan kau hendak bersembunyi?” sebuah suara terdengar tepat ketika aku hendak melangkahkan kaki.
            ‘Oh Tuhan, ia tahu’ dan sekarang ia menatap kearah tembok tempatku bersembunyi. Aku keluar dari balik tembok itu.
            “Maaf, aku tidak tahu kau ada di tempat ini! Aku akan segera pergi” aku berbalik hendak pergi.
            “Aku tidak masalah dengan datangbya kau disini.” Aku berhenti dan diam terpaku.
            ‘Apa yang ia katakan?’ aku kembali menghadapnya.
            “Ini bukan tempatku. Jadi semua siswa disini bebas kesini. Termasuk dirimu dan sampai kapan kau akan berdiri?” ia melihatku tepat saat aku juga melihatnya. Buru-buru kutundukkan wajahku dan melihat sekelilingku. Hanya ada 1 bangku di tempat itu dan itu yang sedang ditempatinya..
            “Tidak apa-apa. Aku akan segera kembali ke kelas.” Sergahku. Aku merasa tidak pantas duduk di dekatnya.
            “Duduklah disini. Lagipula lebih nyaman jika ada temanmu untuk ngobrol.” Katanya. Aku berjalan perlahan dan duduk disampingnya. Agak jauh karena ia duduk di ujung kanan sementara aku di ujung kiri.
            “Oh, ya. Siapa namamu?” Ia bertanya padaku.
            “Eh, emm Na.. Nakashima Miyako” aku kembali menunduk.
            “Ohh… Miyako. Aku panggil Ako-Chan, boleh?”
            “Ya? Emm… tentu saja.” Tiba-tiba terdengar sebuah suara aku memegeng perutku, oh tidak. Itu bukan suara perutku. Lalu aku melihat kearah Yamada, ia memegang perutnya dan wajahnya seperti menahan perih. Aku teringat dengan roti yang kubawa. Kuulurkan kedua tanganku, kuberi roti itu dengan wajah yang tetap kutundukkan.
            “Tidak perlu. Bukankah kau datang kesini untuk makan siang?”
            “Tidak” aku menggeleng. “Aku tidak perlu itu. Kau lebih butuh sekarang. Lagipula aku masih punya cadangan disini.” Aku menunjuk setumpuk lemak di perutku. Ia tersenyum.
            “Baiklah. Arigatou Ako-chan.” Ia menerima roti itu.
            “He-em.”
Ia mulai makan roti itu sambil sesekali tersenyum padaku. Aku masih menundukkan kepala jika ie malihatku. Betapa menyenangkan melihat lelaki yang kau suka begitu dekat..
            “Ahhh.. Nampaknya Tuhan mengirimkanmu hari ini khusus untuk menolongku.” Ia tersenyum lagi. Jika aku terus melihat senyumnya, bisa saja aku pingsan di tempat ini.
            “Arigatou Ako-Chan. Senang berteman denganmu. Sudah waktunya masuk kelas, kita harus pergi. Ayo!” ia berdiri dan bergegas ubtuk meninggalkan tempat ini.
            “Apa kita berteman?” aku bertanya padanya. Wajahku masih saja tertunduk.
            “Tentu saja. Apa kau tidak senang berteman denganku?”
            “Tidak. Maksudku aku senang.. Arigatou Yamada-Kun”
            “He-em. Panggil aku Yama-Pi. Ok. Bye-bye”
Kali ini ia benar-benar pergi. ‘Apa yang harus kulakukan sekarang?’
            Sejak itu aku sering ke atap sekolah, terkadaang aku bertemu dengannya namun biasa juga ia tidak muncul. Aku selalu membawa 2 bungkus roti. 1 untukku dan 1 untuknya. Ia selalu banyak bercerita kepadaku. Ia ternyata tidak seperti anak-anak lainnya. Ia baik. Sangat baik. Ia benar-benar menganggapku temannya. Padahal ia adalah seorang artis. Tetapi, itu semua kuanggap sebagai lampu hijau untukku. Namun, apa mungkin? Butakah ia? Apa mungkin ia lebih memilih gadis 85 kg daripada gadis-gadis cantik dan sexy di sekitarnya?
            Kebaikan Yamada untukku ternyata bukan hanya jika ada kami berdua saja. Ia sering menyapaku bahkan ikut duduk didekatku jika aku di perpustakaan atau di koridor sekolah. Ia juga mengenalkanku pada teman-temannya.
            “Senang berkenalan denganmu, Ako” itulah yang mereka ucapkan. Kupikir mereka hanya baik jika ada Yamada. Namun, aku salah, tanpa kehadiran Yamada pun, mereka tetap tersenyum dan menegurku. Kami juga sering bercerita. Mereka memang baik. Behkan, mereka anak-anak yang usil satu sama lain.
            Waktu terus berjalan, banyak gadis-gadis yang sering mencemooh aku. Mereka merasa aku tidak pantas berada dekat-dekat dengan Yamada dan teman-temannya. Memangnya apa yang salah? Memang aku gendut dan jelek, namun Yamada dan teman-temannya mau berteman denganku.
            Tidak terasa hari pelulusan sudah sekat. Aku bingung akan hal ini. Aku tidak akan berjumpa dengan Yamada. Rasanya aku baru saja menjadi temannya. Namun, arghhh.
            “Kau hendak melanjutkan kemana Ako?” tanyanya suatu hari.
            “Entahlah” jawabku. Aku memang belum memikirkannya.
            “Kalau kau, Yama-Pi?”
            “Aku? Emm,,, aku akan ambil jurusan arsitek. !” jawabnya sambil tersenyum.
Aku bukannya belum memikirkannya, namun aku tidak ingin memikirkannya. Aku tidak ingin apa yang sudah sulit untuk kudapat akan berakhir dengan mudah.
            Di hari pelulusan kami, aku menemui Yamada di atap sekolah.
            “Hei., Ako kemarilah!” Aku duduk di sampingnya. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
            “Kau tampak bahagia Yamada, apa yang terjadi?”
            “Aku? yaa mungkin karena ini hari pelulusan”
            “Jadi, kau bahagia karenanya?” tanyaku ragu.
            “Ya, kau? Apa kau tidak bahagia?” ia melihatku. “Ako?” aku menunduk, aku menangis.
            “Aku sedih karena harus berpisah denganmu dan dengan teman-temanmu”
            “Heh? Kita tetap bisa bertemu.” Jawabnya.
            “Yama-pi, aku suka padamu” aku masih tetap menunduk
            “Heh? Apa? Ako, tapi..”
            “Aku tahu, kau hanya menganggapku teman. Namun, aku menyalahartikan itu, karena tidak mungkin seorang Yamada akan menyukai gadis yang gendut dan jelek”
            “Ako bukan..”
            “Tapi, aku tetap menyukaimu”
            “Ako, aku memang menyukaimu. Namun, bukan ke ….Arghh. bagaimana aku menjelaskannya.”
            “Aku tahu, kau hanya mengenggapku teman. Yama-pi apa jika aku jadi gadis yang kurus dan cantik kau akan menyukaiku?” aku menatapnya
            “Heh? Aku..”
            “Apa jika nanti suatu saat jika aku muncul dihadapanmu dengan wajah yang cantik jawabanmu akan berubah?” aku terus menatapnya.
            “Mungkin saja. Aku akan beri jawaban lain.”
            “Baik tunggu saja, aku akan menemuimu dengan wajah cantik dan kurus.” Aku tersenyum padanya.
            Semenjak hari itu hingga 3 tahun kemudian aku tidak menemuinya.
***
            Ternyata ibuku menelepon hanya untuk mengajakku ke supermarket. Tiba-tiba saja, aku ditabrak oleh seorang lelaki disana.
            “Gomen” ia menundukkan wajahnya.
            “he-em.. daijobu” aku mengambil dompetku yang jatuh.
            “Ako, cepat. Apa yang kau lakukan disana?” ibuku memanggilku.
            “Iya, okaasan” aku segera menyusul Ibuku.
            “Ako? Mungkinkah?” bisik lelaki tadi. Ia berbalik. Namun, aku telah berlari mengejar ibuku.
            “Tidak mungkin. Ako  kan gendut. Lagipula kata Yamada, ia kuliah di LA. Iya. Pasti bukan dia” lelaki tadi segera pergi sebelum ada yang mengenalinya.
***
 Di sebuah Gedung tertulis “Johny’s Entertainment”
            “Hei Yama-pi, kau sakit?” tanya Chinen ketika mereka sedang berada di ruang istirahat.
            “Tidak, memangnya kenapa?” Yamada menatap temannya itu.
            “Kau tampak lesu sekali akhir-akhir ini. Apa yang sedang kau pikirkan sih?”
            “Siapa lagi kalau bukan Ako, mengenai janjinya.” Suara Yuto terdengar dari belakang mereka.
            “Hhhh” Yamada mendesah.
            “Sudahlah. Suatu saat ia juga akan datang. Mungkin ia belum siap.” Tambah Yuto lagi.
            “Tapi ini sudah 3 tahun. Aku khawatir ia lupa.”
            “Hei, Yamada, nampaknya kau sangat mengharapkan ia datang, apa kau berharap ia muncul dengan wajah cantik dan kurus? Ahh, kurasa kau sudah menyukainya” Chinen tertawa dan disambut lainnya. Namun yang jadi bahan tertawaan melongos keluar ruangan.
            “Yamapi kenapa?” tiba-tiba Ryu sudah berada di ruangan itu.
            “Ia memikirkan Ako dan janjinya” sahut Yuto.
            “Ako? Oh, ya ya. Eh, ngomong-ngomong tadi aku bertabrakan dengan seorang gadis di supermarket yang bernama Ako. Namun, aku tidak melihat wajahnya. Hanya saja ia tidak gendut.”
            “Apa? Dimana? Kapan?” tiba-tiba Yamada masu ke ruangan itu dan mendekati Ryu.
            “Hei! Pelan-pelan dong. Tapi, menurutku itu bukan Ako yang kau maksud” jawab Ryu. Yamada kembali menjauh dengan wajah yang lemas lagi.
            “Tapi, itu bisa saja. Bukankah janji Ako untuk jadi kurus dan cantik” Yuto berkomentar. Yang lain menanggapi dengan anggukan. Tapi Yamada kembali bergeming dan keluar ruangan.
***
            Aku berdiri di dekat jendela, mengamati pemandangan kota Tokyo saat malam.
            “Aku ingin bertemu dengannya” aku berbisik pelan.. “Aku ingin ia tahu, bahwa aku sungguh-sungguh untuk memenuhi janjiku” lagi-lagi aku hanya berbisik. Aku berharap ada angin yang berhembus dan membawa ungkapanku ini padanya. Sebenarnya hanya setahun usahaku untuk menjadi kiris. Namun, saat itu aku tidak memiliki keberanian untuk kembali ke Tokyo dan menuntut pengakuannya. Aku ragu bahwa apa yang ia katakan dulu sungguh-sungguh. Bisa saja is telah lupa padaku. Lagipula apa untungnya bagi Yamada untuk mengingatku. Sementara ada ratusan gadis cantik di sekitarnya. Arghh… Aku menuju ke tempat tidur dan kurebahkan diriku disana. Aku harus menemuinya. Setidaknya jika ia tidak meningatku atau melupakan janjinya, aku telah memenuhi janjiku. Tidak lama kesunyian merayap ke pikiranku. Aku telah berada dalam dunia yang tidak jelas akan bentuk dan warna.

Yamada POV.
            Hari ini aku berjalan-jalan seorang diri. Aku benar-benar butuh refreshing saat ini, anak-anak Hey!Say! lainnya selalu menertawaiku. Aku bukan tipe orang yang akan lupa begitu saja pada janji. Arghh. Apakah ia belum bisa memenuhi janjinya untuk menjdi kurus dan cantik sehingga ia belum muncul? Aku sungguh bodoh, apa aku harus terus menunggu? Jika aku tidak menunggunya, itu bukan kesalahanku karena ia yang begitu lama muncul atau tidak akan pernah muncul. Tapi, arghh. Aku benci seperti ini. Kutendang sebuah kaleng soda dihadapanku. Trenngg.
            “Ouch” ternyata kaleng itu mendarat di kepala seseorang.
            “Tidak. Bagaimana ini? Bagaimana jika ia seorang fans? Aku harus pergi. Tapi.”
            “Gomenne. Aku tidak sengaja.” Kataku. Ternyata ia seorang gadis dan kini ia menghadap padaku.
            “Yama-pi” gadis itu mengenaliku dan ia sangat terkejut.
            “Sst. Sst.. Kumohon, jangan berteriak. Akan kacau jika orang tahu aku disini” bujukku pada gadis itu. Wajahnya sangat terkejut. Aku membalikkan badanku dan ingin segera pergi sebalum ia banyak bereaksi.
            “Lama tidak bertemu Yamada-Kun” tiba-tiba gadis itu bersuara.
            “Heh?” aku kembali menghadap gadis itu.
            “Apa kau tidak mengenaliku? Ahh ya. Kau hanya kenal Ako gadis gendut dan jelek kan?” Gadis itu kembali bertanya.
            “Kau, Ako. Nakashima Miyako?” aku bertanya padanya.
            “He-em.” Ia mengangguk. Oh Tuhan, ia benar-benar kembali dengan wajah cantik dan kurus.  Ia tidak berbohong. Ia sungguh-sungguh.
            “Tapi kenapa baru sekarang kau muncul Ako? Itupun secara kebetulan!” kami telah duduk di sebuah bangku di taman.
            “Maaf. Aku belum lama datang dari LA. Kira-kira baru seminggu aku disini.”
            “Jadi, selama 3 tahun kau tidak pernah ke Tokyo?” aku menatapnya lekat-lekat mencari-cari celah jika ia berbohong.
            “Tidak” ia menggeleng. “Eh, Yamada-Kun, Hey!Say! sekarang tambah terkenal yah.. aku melihat banyak billboard diri kalian” ia tersenyum padaku.
            “Yah, begitulah” aku tidak tertarik akan topik ini. Aku menatapnya. ‘apakah selama ini ia menderita untuk dapat menjadi seperti ini?’ aku berbisik dalam hati. Ia kemudian menatap kearahku juga.
            “Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?”
            “Tidak” aku mengalihkan perhatianku. “Aku hanya berpikir kau sangat menderita selama ini. Kau nampak tidak bahagia” aku kembali menatapnya.
            “Siapa bilang? Aku  bahagia. Menghilangkan tumpukan lemak sangat menyenangkan, seperti kau membuang limbah.” Ia tersenyum “ terutama jika itu untuk orang yang kita cintai” lanjutnya ia menatap kearah jauh di depan sana.
            “Apa kau masih menyukaiku?” tanyaku tiba-tiba.
            “Menurutmu?” ia balas bertanya.
            “Entahlah, aku tidak tahu. Kau pergi 3 tahun tanpa kabar dan baru sekarang kau muncul. Karenanya aku ragu akan hal itu.”
            “bukankah janjiku aku akan menemuimu saat aku kurus dan cantik. Tentu saja aku menunggu saat itu” ia lagi-lagi tersenyum.
            “Apa dalam waktu 3 tahun kau baru bisa seperti ini?” tanyaku.
            “Tidak. Aku berhasil membuang limbah lemak ini saat tahun pertamaku di LA”
            “Lalu, mengapa keu tidak muncul saat itu?” emosiku mulai terpancing.
            “Entahlah, kupikir itu belum saatnya. Aku pikir kau akan lupa” ia menundukkan wajahnya.
            “Aku? malah kupikir kau yang akan lupa. Membiarkan aku menunggu 3 tahun.” Aku menatapnya sangsi.
            “Maaf, aku tidak bermaksud demikian” ia masih tertunduk.
            “Kau bahkan mengganti nomor ponselmu tanpa memberitahuku”
            “Gomen. Aku tetap memiliki no ponselmu, namun…” ia menatapku.
            “Namun, kau sama sekali tidak menghubungiku, itu yang kau anggap teman? Ha?” kali ini aku benar-benar marah.
            “Teman?” bisiknya. Namun, aku mendengarnya.
            “ENtahlah, aku tidak mengerti jalan pikiranmu” aku pergi meninggalkannya. Aku marah, entah karena apa.
            “Tentu saja aku adalah temannya.” Samar-samar aku masih mendengar suaranya.

Ako POV.
            Aku menatap nanar ponselku yang tergeletak di atas meja. Menunggu jika memungkinan ia menghubungiku. Beberapa hari setelah pertemuan pertamaku dengannya di taman, aku mengirimnya pesan singkat. Hanya berupa permintaan maaf dan menyampaikan bahwa itu nomor ponselku. Tetapi sampai sekarang, sudah 3 hari ia belum juga menghubungiku. ‘Apa ia masih marah padaku?’ ‘Atau ia langsung menghapus pesanku?’ ‘Atau ia tidak tahu bahwa kau mengirimnya pesan singkat, karena saat itu ia sedang latihan dan managernya yang membacanya lalu menghapusnya karena disangka itu dari fansnya?’ ‘Atau?’ argh.. begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang muncul di kepalaku. Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur. Apa aku salah? Tapi aku sudah minta maaf. Apa begitu menyakitkan baginya? Sudahlah, aku percaya takdir, jika aku memang ditakdirkan dengannya pasti ada jalan untuk terselesaikan masalah ini. Tapi, aku ingin ia tahu bahwa aku masih seperti Ako yang dulu, nanti dan selamanya.
***
            Beberapa hari setelah malam itu Yamada belum juga menghubungiku. Aku juga enggan untuk menghubunginya lagi. Tiba-tiba ponselku berdering.
            “Halo, Yamada-kun? Aku langsung bersuara tanpa melihat nomor yang tertera di layar ponselku.
            “Maaf mengecewakanmu Ako. Tapi aju bukan Yamada. Aku Ryu. Ingat Ryutaro?”
            “Oh.. gomenne Ryu.” Wajahku kembali lemas. “Tentu saja aku ingat! Mana mungkin aku lupa pada kalian!” aku berusaha menunjukkan bahwa aku tidak kecewa karena ia yang menghubungiku.
            “Syukurlah. Ako apa kabar? Hah? Apa sekarang kau telah kehilangan sebagian lemakmu dulu?” ia terkekeh
            “Tentu saja aku kan sudah berjanji. Emm, Ryu dari mana kau mendapat nomor ku?” tanyaku padanya.
            “Tentu saja dari Yama-pi”
            “Heh?” aku kaget mendengar jawabannya.
            “Iya, saat kau kirim pesan itu. Ia mendesah. Kemudian saat ia pergi tanpa ponselnya, aku membuka pesanmu dan mengambil nomor mu.” Ia terdengar sangat bangga.
            “Aich,,, kalian masih saja usil.”
            “Apa Yama-pi belum belum menghubungimu, Ako?”
            “Belum. Sepertinya ia masih marah padaku”
            “Bersabarlah Ako, ia butuh waktu untuk itu. Mungkin ia terkejut karena tiba-tiba bertemu denganmu!”
            “He-em, mungkin saja”
            “Eh Ako, sepertinya kita pernah bertemu di supermarket. Aku menabrakmu. Kau ingat?”
            “Oh, ya. Jadi itu kau, astaga.”
            “ternyata kau benar-benar berubah sekarang. Teman-teman ingin melihatmu. Nanti malam Hey!Say!7  akan makan bersama disini, aku minta kau datang dan mengenai Yamada, kau tidak perlu pusing jalani saja!”
            Aku berpikir mengenai ajakan Ryu dan menurutku itu tidak buruk. Toh, disana aku bertemu yang laiin. Jadi, tak ada alasan Yamada akan mengusirku  atau meuduhku memburunya.
            “Baiklah aku akan datang”
            “Ok. Sudah dulu ya Ako. Bye-bye”
            “Bye-bye”
            Malam harinya aku memenuhi janjiku untuk datang ke Johny’s Entertainment. Ternyata Ryu menunggu di depan.
            “Akhirnya kau datang. Aku pikir kau berubah pikiran. Ayo, kita masuk” ia menarikku.
            “Hei!! Tebak siapa yang bersamaku!” semuanya mengalihkan perhatiannya ke Ryu. Tetapi tak seorang pun menjawab. Aku lihat Yamada terkejut melihatku disini.
            “Ini Ako. Nakashima Miyako! Kalian ingat?”
            “Wow” tiba-tibe chinen angkat suara. “Kau Ako? Ternyata kau benar-benar…” ia menggantungkan kalimatnya. “Berubah”
            “Selamat datang kembali, Ako” Keito ikut mendekat kearahku.
            “Hishasiburi Ako-chan. Kau benar-benar berubah” yuto menambahi.
            Kemudian serentak mereka menatap ke arah Yamada yang masih duduk tenang di kursinya.
            “Kenapa kalian semua melihatku?” tanya Yamada setelah sadar dirinya menjadi objek saat itu.
            “Aku telah bertemu dengannya sebelumnya, untuk apa mengucapkan ucapan selamat datang dan sebagainya.” Ia kembali asyik dengan ponsel ditangannya.
            “Sudahlah, ayo kita mulai acara penyambutan Ako.” Ryu berusaha melerai ketegangan itu.
            “Ok” mereka kemudian duduk di kursi mereka masing-masing dan entah aku harus senang atau merasa sial aku duduk tepat dihadapan Yamada.
            “Eh, Ako berapa lama kau akan berada di Tokyo?” Chinen bertanya padaku di sela-sela makan malam ini.
            “Aku hanya sebulan dan 2 minggu lagi aku kembali ke LA” semuanya menghentikan makannya dan menatapku tanpa terkecuali Yamada. Mereka terlihat sanagt terkejut.
            “Kenapa cepat sekali, Ako? Padahal kita baru bertemu denganmu.” Suara Ryu terdengar sedih.
            “Gomen, tadinya aku ingin mengambil libur 2 bulan. Tapi, tidak bisa.”
            “Baiklah, karena hanya 2 minggu jadi kita harus memanfaatkan sebaik mungkin” Yuto berusaha untuk menghibur teman-temannya.
            “He-em tentu saja. Ayo lanjutkan makan kalian.” Aku melihat ke arah Yamada. Ekspresinya datar. ‘Apakah itu ekspresi sedih, kecewa atau bahagia?’ aku tidak mengenal ekspresi itu.
            Selesai makan malam, kami berkumpul di ruangan mereka. Namun aku tidak menemukan Yamada disana. Aku mencarinya keluar. Ternyata ia berdiri di dekat jendela den menatap keluar.
            “Ehem.. kau sedang apa?” tanyaku.
            Ia melihatku lewat ujung matanya. “Tidak, tidak ada yang kulakukan.” Sesaat hening tidak ada diantara kami yang bersuara.
            “Jadi?” ia kemudian berbicara.
            “Heh?”
            “Apa yang akan kau lakukan dalam waktu 2 minggu?” ia menjelaskan pertanyaannya.
            “Ohh.. Mungkin hanya berjalan berkeliling Tokyo bersama teman-temanmu dan tentunya kau juga, jika kau mau”
            “Ohh.. Aku tidak janji” kemudian ia berbalik dan pergi.
            ‘Apa sulit untuk menerima kehadiranku’ Aku berbisik dalam hati.
***
            2 minggu terakhirku di Tokyo, ku habiskan bersama anak-anak Hey!Say!!7. kami biasa bercengkerama bersama, makan malam dan lainnya sesuai dengan waktu mereka. Maklum, mereka harus sering latihan.. aku semakin akrab dengan mereka. Namun, hubunganku dengan Yamada tidak jauh berkembang. Ia masih jarang berbicara padaku, aku lebih sering mengajaknya ngobrol. Padahal keberangkatanku ke LA tinggal sehari lagi.
            “Ako, tidak terasa 2 minggu hampir berlalu.” Kata Keito suatu hari saat aku berada di Johny’s Entertainment melihat mereka latihan.
            “He-em, besok pagi aku akan ke LA” kataku.
            “Apa? Besok pagi?”Tiba-tiba Yamada bersuara membuat yang lain mengarahkan perhatiannya padanya.
            “He-em. Hari ini aku ingin pamit dengan kalian” aku menatapnya.
            “Pamit?” tanyanya. “Kau datang tanpa pemberitahuan dan pergi dengan sebuah pemberitahuan. Lucu sekali” setelah berkata demikian ia beranjak pergi. Aku hanya diam dan menatap dirinya yang menjauh.
            “Kau tak apa-apa Ako?” Ryu mendekat ke arahku sementara Yuto berjalan menyusul Yamada.
            “He-em. Daijobu.” Aku berusaha tersenyum. “Bagaimanapun sangat menyenangkan menghabiskan liburanku bersama kalian” tambahku.
            “Tentu, jika nanti kau kembali kau harus bermain lagi dengan kami” kali ini Chinen yang bersuara.
            “Sudah pasti. Aku harap kalian sering menghubungiku. Aku harus pulang sekarang. Aku belum berkemas”
            “Biar kuantar. Nampaknya akan hujan sebentar lagi” Ryu menawarkan.
            “Tidak. Terima kasih, namun tidak perlu. Sekalian ada barang yang ingin kubeli.”

Diruangan lain.
            “Apa kau bahagia dengan bersikap seperti ini? Hah?”
            “Yamada?” Yuto mulai membentak karena kesal ia tidak menenggapi ucapannya.
            “Entahlah”
            “Jika kau mencintainya. Makan bukan begini caranya.” Yuto menambahkan.
            “Aku tidak mencintainya.” Yamada Mengelak.
            “Huh. Hanya orang bodoh yang mengatakan kau tidak mencintainya. Lalu kenapa kau bersikap demikian jika kau tidak mencintainya, hah?”
            “Aku tidak tahu”
            “Jawabannya sederhana Yama-pi. Itu karena kau mencintainya. Kau marah saat ia datang dengan wajah cantik dan kurus, itu karena kau terkejut bahwa ia mampu seperti itu dan kau merasa bersalah karena ia pastinya menderita untuk jadi seperti itu. Namun, kau kecewa karena ia terlambat menunjukkannya padamu. Ingat ia akan kembali ke LA besok. Pastikan bahwa kau tidak akan menyesal karenanya. Bisa saja karena sikapmu ini ia akhirnya putus asa dan berusaha untuk melupakanmu. Apa kau tidak akan menyesal?” perkataan Yuto kali ini berhasil membuat Yamada berbalik menghadapnya.
            “Kau benar. Aku harus memberi jawaban sesuai janjiku 3 tahun lalu” setelah berkata demikian, Yamada berlari menuju ruang latihannya.
            “Kemana Ako?” tanyanya kepada teman-temannya disitu.
            “Ia baru saja pulang, katanya ia harus berkemas” chinen menjawab pertanyaannya.
            “Hujan begini?”
            “Ya, tadinya..” belum selesai Chinen menjawab pertanyaan itu, Yamada telah lari keluar ruangan..
            “Nampaknya ada yang telah menyadari perasaannya” Keito berkomentar dan yang lain mengangguk.
***
            Aku terus berjalan menerobos titik-titik hujan. Tidak ada hasilnya apa yang kulakukan 3 tahun ini. Bahkan, lebih buruk dari sebelumnya. Aku harap kembalinya aku ke LA akan lebih menyenangkan dari ini.
            “Jangan pergi, kumohon.” Kurasakan lingkaran tangan seseorang dari belakang di tubuhku dan berbisik lembut di telingaku. Spontan kuhentikan langkahku.
            “Maaf telah mengecewakanmu. Tapi aku ingin kau tidak melupakanku” lanjutnya.
            Aku berbalik menghadapnya. “Yama-pi”
            “Aku ingin memenuhi janjiku 3 tahun lalu. Jawabannya.. Aku menyukaimu juga. Bahkan lebih. Aku mencintaimu”
            “Yama-pi” aku memeluknya ia pun balas memelukku.  “Kenapa baru mengatakannya. Aku hampir putus asa karena itu”
            “Maaf” tetesan hujan semakin deras. Namun, itu tidak terasa di kulitku karena ada yang lebih indah yang dapat kurasakan. Aku melepas pelukan kami.
            “Yama-pi, tunggu aku. tunggu sampai aku menyelesaikan kuliahku di LA”
            “Aku akan menunggu selama yang kau minta.” Kami kembali berpelukan
            Ternyata tidak ada yang sia-sia di dunia ini jika kau melakukannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, akan ada harga yang kau dapat yang lebih dari itu.

The END
mina-san tinggalin comment yaa..

0 komentar:

 

Cuap-Cuap Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea